#CatatanKPID Bisnis Radio harus Bisa Memaksimalkan Internet

Oleh: Akbar Ciptanto, S.Hut, MP.Sc
Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Kaltim

(telah dimuat di media Niaga Asia pada tanggal 27 Juni 2020, dengan tautan https://www.niaga.asia/bisnis-radio-harus-bisa-memaksimalkan-internet/ )

JAUH sebelum era revolusi industri 4.0 saat ini, radio pernah menjadi sebuah teknologi yang paling canggih pada masanya. Industri ini mampu menghibur, mendidik, hingga mejadi sumber informasi ter-up to date. Secara perlahan,industri ini mengalami penurunan penikmat, menjadi dilemma antara tetap bertahan karena hobi atau tenggelam perlahan hingga mati.

Bagi sebagian orang yang lahir pada tahun 70 hingga 80-an, tentu pernah merasakan bagaimana rasanya mengungkapkan perasaankepada someone yang tak ingin disebutkan namanya melalui sebuah lagu. Hingga membayangan sesosok pria atau wanita yang cantik dan gagah karena memiliki suara yang indah di telinga.

Penulis pun masih ingat, saat bersama tiga saudara berbaring di ranjang menghadap sebuah kotak plastik berukuran 30×40 cm, yang mampu mengeluarkan suara tanpa gambar. Menantikan Brama Kumbara melawan Mak Lampir, Arya Kamandanu, serta berbagai sandiwara lainnya. Inilah kelebihan radio pada zamannya. Mampu membuat ruang imajinasi bergerak cepat, hingga lintasan-lintasan gambar untuk menggambarkan situasi dan kondisi dari apa yang didengar.

Tetapi, kehadiran industri televisi yang berkembang pesat di era 90-an, pada akhirnya berpengaruh sangat besar dengan menggerus dan menggeser perilaku kehidupan masyarakat Indonesia untuk memperoleh informasi dan hiburan. Masyarakat merasa tidak puas hanya mendengar, tetapi juga ingin melihat secara langsung.

Kehadiran internet

Terbaru, kehadiran internet serta kemajuan teknologi komunikasi, secara signifikan menumbangkan industri radio, juga mengikis penikmat industri televisi. Kepuasan masyarakat dalam mencari informasi dan hiburan mengalami peningkatan. Tidak hanya sebatas ingin mendengar dan melihat, tetapi, ingin langsung memilih sendiri konten informasi dan hiburan yang mereka suka dan nikmati.

Sangat mudah menemukan situs dalam jaringan internet yang berlomba-lomba untuk mengabarkan sebuah informasi terkini hingga hiburan. Ditambah berbagai perangkat lunak multiplatform dan gawai cerdas dengan harga terjangkau semakin mengikis penikmat radio.

Perubahan yang sangat cepat ini membuat pengelola radio menjadi gamang dan resah. Mereka harus segera beradaptasi dengan perubahan yang sedemikian besarnya. Tujuannya sangat jelas, agar industri radio tetap bertahan, meski hanya menjadi sebuah industri untuk menyalurkan hobi dari kenangan-kenangan masa lalu.

Sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, saya tetap optimis dan meyakini bahwa industri ini akan tetap bertahan. Tetapi untuk kembali berjaya seperti masanya, tentu tidak mungkin. Apalagi jika hanya memanfaatkan ruang frekuensi yang dipinjamkan oleh Negara.

Agar mampu bertahan dan tetap berkembang, industri radio harus segera mengubah landscape industry ini. Jangan hanya mengandalkan frekuensi untuk bersiaran, tetapi harus bergerak mengikuti arus, yakni bersiaran dengan memaksimalkan jaringan internet.

Tentu ada dasar dari penulis untuk meyakini hal tersebut, salah satunya, yakni radio memiliki keunggulan yang terletak pada produk yang dihasilkan, yakni audio content. Sebuah produk yang mengandalkan indra pendengaran sebagai sarana untuk menikmati produk tersebut.

Mengapa menjadi sebuah keunggulan, karena produk audio contentdapat digunakan kapan saja tanpa mengganggu aktivitas lainnya. Berbeda dengan produk yang memanfaatkan video dan audio content sebagai produk utama, yang mengharuskan penikmat tidak dapat melaksanakan aktivitas lainnya.

Itulah mengapa, di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, radio masih menjadi alternatif masyarakat ketika berkendara. Selain mendapat informasi tentang arus lalu lintas, penikmat radio juga dimanjakan dengan lagu-lagu yang diputar, dan yang terpenting, mereka tetap dapat mengendarai kendaraannya dengan aman.

Multiplatform

Hanya saja, tetap harus diakui, bahwa minat masyarakat untuk mendengarkan radio mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal membuat insan radio harus bekerja ekstra keras dan lebih kreatif untuk merancang program agar lebih menarik. Bahkan harus ada langkah konkret untuk memenangi persaingan di bisnis ini media.

Salah satu cara untuk memenangkan persaingan ini, yakni “Radio Harus Multiplatform”.

Seperti dua sisi mata pisau, kehadiran internet meski secara langsung menggerus penikmat radio yang disiarkan secara konvensional melalui frekuensi, tetapi kehadiran internet juga menjadi peluang bagi industri ini untuk bangkit dari keterpurukan.

Ke depannya, industri radio tidak lagi sebatas memaksimalkan audio content sebagai penghasil utama pundi-pundi Rupiah melalui frekuensi. Tetapi sudah harus menjelma sebagai sebuah industri content provider dengan produk utamaberupa konten audio dengan berbagai macam platform.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − 11 =