Bersenergi Dengan KPID, Bontang Menuju Kota Ramah Anak

Yovanda bersama pemateri dan seluruh peserta diskusi Bontang Ramah Anak

Bontang – Televisi telah menjadi bagian dalam setiap perkembangan masyarkat urban hingga daerah perbatasan. Pasca reformasi pilihan tayangan Televisi pun lebih beragam, sehingga baik orang dewasa maupun anak-anak tidak terlepas dari aktivitis menonton TV setiap harinya.
Pun begitu, tidak mudah mencari tayangan yang berkualitas dan ramah anak ditengah ratusan program baik TV Nasional maupun luar negeri. Anak-anak pun tidak memiliki kemampuan untuk memutuskan tayangan yang cocok bagi mereka, oleh sebab itu disinilah peran orang sangat dibutuhkan.

 

Yovanda menyampaikan materi terkait program siaran dalam membentuk karakter anak

Hadir dalam Sosialisasi Menuju Media yang Ramah Anak untuk Mewujudkan Bontang Kota Ramah Anak, Komisioner KPID Kaltim Yovanda Noni menyampaikan keresahannya terhadap tayangan kekinian di Televisi yang tidak ramah anak, “coba kita lihat apakah ada di Televisi tayangan yang merangsang intelektualitas anak? Yang mengandung nilai edukasi? Sangat minim. Bahkan banyak tayangan yang tidak sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), malah banyak yang mengandung unsur kekerasan” ungkapnya menjelaskan.

Keresahan yang sama pun diamini oleh dua Narasumber lain yakni Supriyadi Kepala Bidang Partisipasi Media Elektronik dan Sosial Kementrian PP dan PA serta Ahmad Djauhari Wakil Ketua Dewan Pers Nasional.
Dalam narasinya, Ahmad Djauhari mengatakan “Dewan Pers kemudian menggalang konstituen dalam komunitas untuk membuat pedoman peliputan ramah anak yang dimaksudkan untuk memberikan panduan atau rambu-rambu pada teman-teman wartawan se-Indonesia agar mereka lebih tau batasannya dalam membuat peliputan yang lebih ramah anak, selain melindungi wartawan atau media itu juga melindungi anak untuk keselarasan yang lebih baik dalam hal yang berkaitan dengan kesejahtraan dan perlindungan anak di Indonesia” katanya menerangkan.

Hal senada diamini oleh Supriyadi, menurutnya Sebagai ujung tombak informasi wartawan harus mengerti betul batasan-batasannya. Seperti misalnya kasus VA yang sempat ramai, sebelum putusan pengadilan wartawan berlomba-lomba memberitakan kasus VA dengan nama lengkap dan wajah tidak disensor, hal demikian harus dihindari apalagi jika korban adalah anak karena ada nilai moral yang harus dijaga. (Humas – KPID)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

34 − 25 =